Saturday, April 12, 2008

Code of Misconduct

ILLUSTRATED BY YAMBAR
LEBIH dari setahun hidup di Philadelphia membuat lidah dan perut saya terbiasa dengan burger sebagai menu santapan. Ada banyak kedai dan resto American food di Center City, pusat pemerintahan kota Phila. Tapi, tak ada yang bisa menandingi Misconduct Tavern.

Rasa dagingnya berasal dari ground tenderloin segar. Setelah gigitan pertama, saya tahu, saya akan kembali ke sini, dua atau mungkin tiga kali sepekan.

Lalu, keluarlah bill: $8.50. Harga setangkup burger di papan tulis di luar resto tertera $5. Seorang pelayan yang wajahnya ala Benicio del Toro menjelaskan, “You need to order the lunch burger to get it for $5.” Saya melirik jam dinding. Pukul satu siang.

Misconduct dibuka pada Maret 2007 setelah 10 bulan renovasi. Interiornya dipenuhi pernak-pernik kapal dan kelautan abad ke 18. Pergi ke sini seperti mampir ke suatu tempat yang diharapkan setelah berbulan-bulan mengarungi kepulauan Karibia serta lolos dari serangan bajak-bajak lautnya yang tak pernah gosok gigi. Tenang. Nyaman.

Mendengar cerita saya, istri saya di rumah ngedumel. Dengan $5 semestinya saya bisa mendapat 2-3 Burger King dan membawa pulang satu sisanya.

“Tapi burger ini lain,” saya membela diri.

Masih terbayang, burger yang disajikan dengan French fries berbumbu dalam piring oval. Keju dan mayonaise yang meleleh dari tepi daging ke piring itu pasti takkan Anda sia-siakan sedikit pun. Ritual santap akan paripurna bila Anda membersihkan lelehan dari sela-sela jari dengan mulut Anda. Saya jamin, kalau Anda jadi saya, selagi menyantap burger ini Anda tak sempat menoleh sekali pun mertua Anda lewat (pertimbangkan hal ini, karena mertua saya berada di Tanah Air).

“Ah, burger ya tetap burger,” sergah istri saya.

Bagai Kapten Jack Sparrow yang baru turun dari kapalnya, dua hari kemudian saya mampir lagi Misconduct di Locus Street. Terik matahari Agustus memaksa Jack memesan basil lemonade. Sekali sesap, hilang 100 dahaga. Asam, crisp, dingin. Satu masalah: $10.

Sudah pasti segelas minuman ini dibuat oleh tangan trampil dan resep istimewa. Ketrampilan ada harganya di Amerika. Tapi $10? Seorang bule berbadan tambun dekat saya melotot, “Ten fucking dollars?

They’re $5 on Wednesday,” kata Del Toro kepada kami.

Si bule berspekulasi, jangan-jangan ada tambahan tequila, wine atau semacam itu. Pelayan kita menjawab tidak.

Seraya menyesap basil lemonade-nya, si bule berujar kepada saya, “This tavern is the best lunch deal in town as long as you know the codes.”

Kami tergelak.

Keesokan harinya, Jack Sparrow datang lagi ke sini. Waktu menunjukkan 12 siang ketika ia duduk menghadap jalan. Del Toro menyapa ramah, “What’z up, man?

Sebelum tangannya menjulurkan menu, Jack berkata, “No need. I’ll have the burger. You know, the one on the sign out front.” (Sangat lezat, tentu saja. Semuanya saya ingat.)

Sialnya, bill yang keluar tetap $8.50 (50 sen untuk keju).

Kapten Jack kembali lagi siang esoknya. Belajar dari pengalaman, kali ini ia menyebut “lunch burger.”

Jack tak kuasa menahan senyum kecutnya saat memandang burger yang lebih tipis dan mungil dibanding burger $8.50 sebelumnya.

Del Toro berusaha menguasai keadaan, “Everything’s all right?

This burger is $5, yeah?”

It is.”

Hari itu hari Rabu. Jadi, ia juga memesan basil lemonade $5. Sama dengan burger, porsi minuman ini pun berkurang. Harus diakui, aroma dan kelezatannya tak berubah.

Sambil menghabiskan es lemon-nya, Jack membatin akan menghentikan petualangan keempat kalinya ke Misconduct.


Philadelphia, 10 Oktober 2007